Salah Besar Ihwal Pengawalan Polisi Di Jalan Ketika Konvoi

Beberapa waktu kemudian para komonitas pecinta Harley Davidson (HD), telah berkumpuk di Yogyakarta. Bukan hanya sekedar berkumpul bersama atau bareng-bareng, mealinkan program tersebut dimaksudkan untuk memperingati hari kemerdekaan RI yang ke-70. Kota Jogja pun dipenuhi oleh spesies-spesies moge , yang dimana lebih banyak didominasi ialah moge dari Harley Davidson. Acara tersebut memang sempat menjadi perbincangan hangat ketika konvoi tersebut menerobos rambu-rambu kemudian lintas ketika menyala warna merah. Namun hal tersebut pribadi diberhentikan oleh pesepeda yang diketahui namanya ialah Elanto Wijoyono. Pengawalan yang dilakukan polisi pun sempat menjadi materi omongan setealhnya. Dan apalagi sangat banyak konvoi yang memakai pengawalan dari pihak kepolisian.

style=”display:inline-block;width:336px;height:280px” data-ad-client=”ca-pub-6314321496757137″ data-ad-slot=”3870304402″>

Pengawalan yang dilakukan oleh pihak kepolisian memang terhadap kendaraan sepeda motor memang hal yang lumrah. Dengan dilakukannya pengawalan polisi tiu dinilai akan memberi keamanan yang lebih ketika melaksanakan konvoi dijalanan, baik itu kendaraan sepeda motor maupun kendaraan beroda empat yang melaksanakan konvoi. Bahkan tidak jarang ada pihak individu yang memakai kawalan polisi. Awalnya si pengawalan polisi m\sudah menjadi hal yang mendukung keamanan dan kenyamanan semua pihak, baik itu yang melaksanakan konvoi maupun para pengguna jalan lain. Namun hal tersebut sangat disayangkan jikalau kini justru malah fungsinya dipakai secara berlebihan. Hal tersebut mungkin dikarenakan kurang pemahaman tata cara berkonvoi dengan memakai pengawalan dari pihak kepolisian.

Pasukan atau rombongan yang dimana perjalanannya di kawal oleh polisi sering dirinya mempunyai hak khusus untuk mendahului para pengguna jalan lain. Nah dari situ lah munculah sebuah tindakan semena-mena atau seenaknya sendiri, bahkan sampai melanggar rambu-rambu lalulintas tidak menjadi duduk kasus yang besar. Dan yang lebih parahnya lagi dari konvoi tersebut ialah ketika mereka memaksa para pengguna jalan lain untuk menggir atau berhenti semoga mereka jalannya lebih leluasa.

Jusri Pulubuhu selaku Training Director jakrta Defensive Driving Conseling (JDDC) menyampaikan bahwa aneka macam hal yang salah. Tidak ada hak khusus untuk para akseptor konvoi yang di kawal oleh pihak kepolisian. Namun terkadang mereka malah merasa mentang-mentang di kawala oleh kepolisian mereka malah emnganggap mereka mempunyai hak khusus. Bahkan sampai menyalakan sirine dan lampu strobos aja itu ada aturannya.

Menurut undang-undang nomor 22 tahun 2009 wacana kemudian lintas dan agkutan jalan (UU LLAJ), jikalau ada kendaraan bermotor yang mempunyai hak utama sehingga mendapat prioritas dan wajib didahulukan jikalau dibandingkan dengan pengguna jalan lain. Namun dalam hal hukum yang tertulis pada pasal 134 undang-undang tersebut, dinyatakan bahwa hanya ada tujuh saja kendaraan´┐Ż yang sanggup mendapat hak utama untuk di dahulukan. Kendaraan-kendaraan yang dimaksud tersebut ialah kendaraan pemadam kebakaran yang sedang melaksanakan tugasnya, kendaraan untuk menawarkan proteksi kepada kecelakaan kemudian lintas, ambulans yang sedang mengangkut orang sakit, kendaraan pimpinan dan forum Negara Republik Indonesia, iring-iring pengantaran jenazah, kendaraan pimpinan dan pejabat Negara aneh dan forum internasional yang menjadi tamu Negara, dan yang terakhir ialah konvoi, konvoi yang dimaksud ialah konvoi kendaraan untuk kepentingan tertentu berdasarkan pertimbangan petugas kepolisian Negara Republik Indonesia.